Tulisan  ini dilatarbelakangi oleh beberapa peristiwa yang terjadi dalam 2 bulan ini, antara lain dengan berlangsungnya pernikahan salah satu sahabat dekat ketika SMA yang  datang ke rumah tempat berteduh saya yang sudah tidak teduh lagi karena sudah banyak ditebangi. Pada minggu sore itu tanpa pemberitahuan sebelumnya sahabat saya ujug-ujug datang menyerahkan selembar undangan pernikahan yang akan di adakan pada akhir bulan desember 2008. Sesaat ada suatu perasaan yang aneh berkecamuk di benak ini gado-gado antara perasaan senang, sedih dan penasaran. Senang karena akhirnya sahabat saya itu telah menggenapkan separuh Dien nya, sedih karena merasa ditinggalkan dan penasaran siapa calon wanita yang malang  itu (haha klo ini bercanda sumpah deh) astaghfirullah maksudnya beruntung mendapatkan orang sebaik sahabat saya itu, bukankah orang baik itu bisa dilihat dari sahabat / teman nya bergaul maka otomotis dong … ehm2

Sebenarnya klo bicara tentang cinta mungkin sebagian dari kita ada juga yang merasa eneg  atau males karena sudah biasa mereka dengar sehari-hari dari tayangan TV, Sinetron, Lagu yang isinya cinta melulu .. (coba denger lagu efek rumah kaca). Saya ingat sekali waktu zaman masih muda(sekarang juga masih muda sih) dulu ketika masih di kampus biru ngayogyakarto baik ketika kuliah, pengajian, ataupun pas kongkow-kongkow topik yang paling membuat orang antusias adalah topik cinta.

Dan tahukah anda keyword apa yang paling banyak dicari/populer pada mesin pencarian no.1 di dunia  google.com (tahun 2007 & 2008)  tidak lain adalah kata Cinta  baca the most popular queries on google | what is love ? | the economist

Ya jikalau saja google sudah ada sejak awal manusia diciptakan mungkin arti kata cinta jugalah yang akan banyak dicari, sejarah dalam rentang waktu yang berbeda telah membuktikan banyaknya kisah pencarian akan arti cinta.

Padahal klo menurut teman saya cinta itu terlalu profan, abstrak , surealis untuk di definisikan. Cinta manunggaling dengan alam, kehidupan dan manusia. Berat bener kan, saya aja ga ngeh.

Lalu ada juga yang berpendapat cinta itu it’s not about the feeling aja, katanya. Tapi juga how to behave terhadap orang yang kita cintai. Maksudnya bukti dalam perilaku. Tetapi tentu saja bentuk nya tidak hanya dalam bentuk kata-kata tetapi bisa juga berujud sikap. Saya juga bukan tipikal orang yang sulit untuk mengungkapkan dengan kata-kata. Misalnya bentuk sederhana cinta saya adalah ketika mentraktir seorang teman nasi pecel di pinggir jalan kaliurang yah walau harganya tidak seberapa, atau ketika bapak saya membelikan sate ayam tanpa berkata apa-apa pun saya tahu itu bahasa lain dari kecintaannya kepada keluarga di rumah.

Saya tak pernah ungkapkan cinta saya, tapi perbuatan saya cukup menggambarkan apa yang saya rasa. Tapi  semakin lama, saya merasa itu tidak cukup sebab dalam kehidupan pihak lain tak kan pernah tahu klo kita mencintainya bila kita tak mengungkapkannya. Bahkan jangan salah, ada pihak-pihak yang begitu bebal untuk menangkap isyarat cinta lewat sebuah perbuatan. Orang Nikah saja juga ada akad nikah yang itu semua butuh dilafalkan. Jadi memang cinta itu tak bisa cuma dipendam dan beharap pihak yang kita cintai secara otomatis tahu sendiri.

Kita mengobral kemana-mana bahwa kita cinta Allah, tetapi ketika saudara kita sedang teraniaya di palestina tidak tergerak hati kita untuk menolong sama aja bohong, bukankah kita diajarkan untuk mencintai saudara kita dan juga diibaratkan sebagai satu tubuh yang apabila satu bagian tersakiti maka seluruh bagian lainnya akan ikut merasakan sakitnya. Kita selalu menyatakan bahwa “Hidup Ku Mati Ku, dan semua amal perbuatan ku hanya pada Mu ya tuhanku” tapi kita membiarkan aturan-aturan-Nya dicampakkan sama juga bohong. Cinta butuh diungkapkan memang benar. Tapi cinta jauh lebih butuh bukti daripada hanya janji-janji palsu.

Saya menulis ini pun karena saya cinta dan sedang dalam kondisi mencinta. Saya cinta diri saya. Saya cinta dengan kalian yang sedang mengunjungi blog ini yang merupakan bukti cinta saya. Tapi kalian tak akan pernah tahu betapa saya cinta kalian bila saya tak beranikan diri untuk menulisnya.

Cinta saya tak akan pernah terbukti, musnah tanpa bekas. Cinta saya cuma sebentuk ilusi yang tidak akan pernah diketahui oleh pihak yang saya cinta. Dengan adanya tulisan ini, saya ingin mengabarkan pada kalian yang sedang asyik membaca gombalan saya tentang cinta, betapa saya mencintai kalian.

Sama seperti ketika mencintai kebenaran. Cinta itu hanya omong kosong bila ternyata tak ada perubahan berarti bagi diri saya untuk jadi yang lebih baik. Bila saya menutup diri dari masukan orang tentang apa itu kebaikan dan kebenaran. Semua butuh bukti. Dan langkah meski kecil untuk mau menjadi lebih baik adalah bukti cinta saya. salam

ps : buat teman-teman ku di jogja dan jakarta yang sudah melangsungkan pernikahannya pada bulan desember kemarin

Barakallah ..Semoga menjadi keluarga yang sakinah mawadah wa romah… amiiin