You are currently browsing the tag archive for the 'karya sastra' tag.

Duhai, kalau pohon bisa berkelana
dan bergerak dengan kaki dan sayap!
Tentu ia tak akan menderita karena ayunan kapak
juga tak akan merasakan pedihnya gergaji!
Karena kalau mentari tidak berkelana jauh
menembus malam
Mana mungkin setiap pagi
dunia akan cerah ceria?
Bila air samudra
tidak naik ke langit,
Mana mungkin tumbuh-tumbuhan akan tersuburkan
oleh irigasi dan hujan yang lembut?
Tetes air yang meninggalkan negerinya,
samudra, dan lalu kembali –
Mendapati tiram sedang menanti
dan tumbuh menjadi mutiara.
Tidakkah Yusuf meninggalkan ayahnya,
dalam sedih dan air mata dan putus asa?
Tidakkah lewat perjalanan itu
dia peroleh kerajaan dan kemenangan ?
Kalau tak punya kaki untuk berkelana
berkelanalah ke dalam dirimu,
Dan bak tambang batu delima
terima jejak sinar mentari!
Perjalanan seperti itu
akan membawamu ke dirimu,
Mengubah debu jadi emas murni!
Tinggalkan pahit dan cuka,
pergilah ke manis!
Sebab air laut pun membuahkan
seribu jenis buah
Matahari itulah
yang menampilkan karya amat bagus itu,
Karena pohon jadi indah
kala disentuh mentari
(rumi)

Sekedar nostalgia dalam rangka 100 tahun kebangkitan nasional hehe. Jadi teringat masa kecil dulu saya dan keluarga sangat menyenangi film yang satu ini, kisah “Siti Nurbaya” yang pada waktu itu dibintangi oleh novia kolopaking sebagai siti nurbaya dan gusti randa sebagai samsul bahri. Cerita ini diangkat dari roman karangan marah rusli yang diterbitkan oleh balai pustaka. Roman yang satu ini memang sangat fenomenal dan bisa dibilang belum ada tokoh fiktif yang menandingi sosok perempuan yang satu ini. Saat ini ada beberapa novel fenomenal lainnya seperti karya Andrea Hirata dalam “Laskar Pelangi” yang memunculkan sosok Haikal maupun Habiburahman Al Shirazi dalam “Ayat-ayat Cinta” yang memunculkan sosok Fahri, Aisha, Maria dll, tapi saya rasa ke semuanya belum bisa menandingi ketokohan siti nurbaya.
Jika kita menengok ke belakang tokoh sentral dalam roman Siti Nurbaya karya marah rusli itu telah hadir sejak tahun 1922. Di padang, Siti Nurbaya hadir seperti sosok riil. Ada jembatan atas namanya, ada pula makam lengkap dengan cungkup dan kelambunya. yang menarik beberapa lama setelah roman itu lahir terjadi perubahan dalam masyarakat minagkabau terutama berkaitan dengan kawin paksa. Roman ini kemudian menjadi counter culture, yang mengejek setiap orang tua ketika hendak memaksa anak perempuannya kawin dengan perjodohan paksa: ini bukan lagi zaman siti nurbaya. Bahkan 80 tahun kemudian Dewa 19 pernah membuat lagu berjudul “Cukup Siti Nurbaya” yang juga terinspirasi oleh roman Siti Nurbaya.
“Roman Siti Nurbaya berkisah tentang percintaan melodramatis Siti Nurbaya dengan Samsul Bahri. Namun orang tua Siti tak menyetujui. Siti pun menikah dengan Datuk Maringgih orang tua kaya berhati licik. SIti akhirnya meninggal diracun anak buah Datuk Maringgih . Syamsul pun mati. Siti Nurbaya menarik karena roman ini mampu membangun pemahaman baru kan kegelisahan perempuan terhadap adat dan kebudayaan yang mencengkram mereka. Cerita ini sekaligus menggambarkan pengorbanan perempuan Siti Nurbaya untuk kedua orangtuanya dengan menikahi Datuk kaya demi melunasi orang tua.” (tempo)
Tetapi yang saya sayangkan adalah novel ini seringkali dijadikan bahan untuk menyerang konsep dalam islam yang memperbolehkan(bukan mewajibakan loh) poligami, padahal jika kita pikir dengan akal sehat sebelum datangnya islam seorang laki-laki apalagi yang memiliki kedudukan tinggi(bangsawan) biasanya memiliki banyak selir, bahkan raja-raja di tiongkok ada yang memiliki lebih dari seribu selir. Islam justru mengatur masalah-masalah tersebut. Loh kok jadi ngomongin poligami nih harap maklum soalnya abis minum jus poligami (gak nyambung kan). Cukup Sampai Disini deh…
Salah satu novel menarik yang saya baca adalah sang alkemis yang di tulis oleh paulo coelho pengarang ternama dari brazil yang sekarang juga nyambi di PBB sebagai duta perdamaian untuk perdamaian dan toleransi (ga tau nih dia sepakat dengan invasi irak atau ga ?). Novel ini Novel garapan penulis Brazil ini berkisah tentang suka duka peziarahan bocah kecil bernama Santiago, bocah gembala di Andalusia. Demi “legenda pribadi” ia memutuskan melakukan perjalanan panjang. Dari Spanyol menuju Mesir. Semua demi mimpi-mimpinya bertemu dengan Alkemis, dan harta karun. Pesan dari buku ini adalah untuk jangan pernah berhenti bermimpi, setiap orang punya cita-cita, sesuatu yang diimpikan yang patut untuk diwujudkan.
Untuk mendapatkan softcopy novel ini bisa di download disini sang alkemis
















Komentar Terakhir