Ramdhani’s Blog

Catatan kecil pengalaman, pemikiran dan proses pembelajaran …

Archive for Juni 2008

Virtualisasi dan efisiensi energi

with one comment

virtualisasi

Apakah anda sudah pernah menonton The Simpson movie, pasti anda familiar dengan EPA (Environmental Protection Agency), itulah yang disebut-sebut oleh kakeknya bart simpson ketika kerasukan dia mengatakan “EPA…EPA ….EPA…EPA ….EPA…” (sambil menggelepar-menggelepar di lantai) dan EPA pula yang mengurung kota Springfield dengan tabung kaca karena tercemarnya kota oleh limbah yang disebabkan oleh Homer. Silakan anda nonton jika ingin tahu cerita The simpson selengkapnya, karena saya tidak akan menceritakannya disini.
EPA merupakan badan pemerintah AS yang menangani berbagai isu terkait dengan perlindungan lingkungan hidup, termasuk riset dan pengawasan, promosi dan sosialisasi standar kualitas udara dan air, dan pengendalian penggunaan pestisida dan materi-materi berbahaya lainnya terhadap lingkungan.

Ada tulisan menarik dari majalah sda-asia tentang laporan dari EPA sbb:
“laporan dari Environmental Protection Agency (EPA) baru-baru ini membuktikan apa yang selama ini sedang menjadi perhatian para CIO (Chief Information Officer) dan pengelola TI di seluruh dunia. Laporan ini berkaitan dengan efisiensi energi untuk data center.
Di banyak perusahaan, data center memang mengkonsumsi daya terbesar. Tak heran bila kampanye TI hijau oleh berbagai vendor membuat perusahaan mengurangi konsumsi daya server hingga 30 %.
Masih menurut laporan EPA, konsumsi daya keseluruhan data center berkisar pada angka 1,5% dari total konsumsi daya di AS. Hal ini berpotensi untuk dilakukan penghematan biaya hingga USD4 miliar pada biaya listrik tahunan dengan menggunakan perangkat dan pengoperasian secara optimal.
Bila dilihat lebih jauh, sebenarnya terdapat dua tujuan mengurangi jumlah server, yaitu peningkatan efektivitas server dan pengurangan konsumsi daya. Dengan penambahan server, maka tidak hanya mempersulit pemantauan dan pengendaliannya, tapi juga menambah sumber daya yang dibutuhkan, termasuk daya dan ruang.
Virtualisasi ini memungkinkan peningkatan efisiensi konsumsi daya dan utilitas server. Pada akhirnya, hal ini akan mengurangi penggunaan server dan mengakibatkan berkurangnya kebutuhan daya, pendingin, ruang, dan efisiensi biaya operasional.
Efisiensi juga dapat dilakukan dengan menginventarisasi server yang ada dan benar-benar memahami apa yang penting untuk bisnis. Hal ini sangat krusial karena biasanya departemen TI menghadapi dilema bagaimana mengurangi jumlah server dengan tetap mengimbangi dukungan atas pertumbuhan kebutuhan perusahaan yang semakin cepat.
Selain itu, bekerja sama dengan pimpinan departemen, developer, pengguna aplikasi, dan departemen TI dapat dengan cepat menentukan server mana yang memungkinkan untuk dikurangi.
Biasanya, jumlah fisik server dapat dikurangi dengan melakukan virtualisasi. Dengan demikian, untuk 100 server akan terjadi pengurangan konsumsi listrik yang mencapai lebih dari 50 ribu watt.
Sebenarnya, proyek virtualisasi server diharapkan dapat meningkatan pengurangan server yang digunakan dengan rasio virtualisasi 250 server dalam 10 server fisik.
Berdasarkan data, biasanya sebuah rack pada data center mampu menampung 42U (1,75 inchi per U). Angka 27-30U ini dapat digunakan untuk server, sisanya untuk panel, kabel dan power. Dengan demikian, asumsi rasio daya adalah 4:1 untuk mendinginkan server.”[1]

Ada beberapa solusi virtualisasi yang pernah saya coba, antara lain :
1. vmware (windoz, linux , mac)
vmware merupakan aplikasi virtualisasi yang cukup populer dan sudah mendukung beberapa Sistem operasi windoz, linux dan mac osx. VMWare menyediakan emulasi perangkat keras pada sistem yang berjalan. Jadi sistem seperti diinstal pada suatu perangkat keras “buatan”.
2. Ms Virtual Server (windoz), dulu Ms Virtual PC tapi di alihkan pengembangannyan oleh MS versi terakhir Ms Virtual PC 2004 dan menjadi MS Virtual Server 2005 (awal). Untuk administrasi sistem bisa diakses melalui interface berbasis web, bahkan preview sistem lain (guest OS) bisa kita lihat melalui browser tapi tentu saja harus memakai browser IE untuk bisa digunakan maksimal.
3. Xen (linux)
Xen awalnya dikembangkan sebagai proyek riset oleh Cambridge [http://www.cl.cam.ac.uk/Research/SRG/netos/xen/] melalui pendanaan dari dana grant penelitian. Tetapi kini mendapat bantuan dari berbagai perusahaan seperti Intel, HP, Microsoft. Bahkan sekarang perusahaan seperti XenSource [http://www.xensource.com/] telah memberikan layanan komersial untuk penggunaan Xen ini. Xen ini telah disertakan pada berbagai distro seperti OpenSUSE dan Red Hat.
4. Parallels Desktop atau Paralells Server (mac)
Solusi virtualisasi di lingkungan Mac OSX yang menurut saya paling Ok dibandingkan vmware, di versi terbaru sudah mendukung 3D acceleration. Model virtualisasi sama seperti vmware tetapi Parallels ini sudah di maksimalkan untuk processor intel (dual core) dengan Mac OSX dan direkomendasikan oleh beberapa reseller dan pengguna mac yang saya kenal hehe.

Sebenarnya ada beberapa lagi solusi virtualisasi lainnya baik di lingkungan windoz, linux maupun mac osx tapi belum sempat saya explore lebih jauh, mungkin di tulisan berikutnya.

[1]. http://www.sda-indo.com

Written by Ramdhani

Juni 21, 2008 at 7:16 pm

Ditulis dalam Teknologi Informasi

Tagged with

Sofware as a service (SaaS) dan penerapannya di Indonesia

with one comment

saas-workday

Lagi baca-baca mengenai tren IT tahun 2008 nih, analisis gartner memprediksikan trend menuju green IT, trend yang mengacu kepada opini home user, software as a service (SaaS) dan printer 3D, semuanya termasuk dalam Top Ten yang pesat berkembang dalam tahun ini dan tahun-tahun berikutnya.

software as a service (SaaS) , adalah suatu model penyampaian aplikasi perangkat lunak dimana aplikasi di simpan di sebuah hosting provider dan bisa diakses oleh pengguna melalui internet. Dengan menghapuskan kebutuhan untuk menginstall dan menjalankan aplikasi pada komputer pengguna, SaaS menghilangkan kerumitan dalam pemeliharaan software, operasional dan support.[1]

Analis Gartner, sebagaimana disebutkan dalam siaran pers-nya, juga melihat potensi pemangkasan biaya di sektor Software as a Service (SaaS) dan Service-Oriented Architectures (SOA). Mereka yakin bahwa pada tahun 2012, paling tidak sepertiga software aplikasi untuk perusahan akan dibeli dalam bentuk langganan layanan (service subscriptions) ketimbang sebagai produk berbasis lisensi. Dibandingkan model pembelian putus untuk lisensi, perusahan memilih model SaaS dengan pertimbangan biaya yang dikeluarkan setara dengan jumlah pemakaian.

Ada beberapa alasan mengapa tren ini sepertinya melambung di mana generasi software hosting sebelumnya gagal melakukan hal itu pada satu dekade sebelumnya. Alasan pertama, model rancangan dan distribusi software membuatnya lebih hidup dan tidak mahal untuk membagi satu aplikasi kepada ratusan perusahaan dengan memungkinkan lebih banyak contoh aplikasi agar berjalan dalam lingkungan biasa dan secara luas berimprovisasi pada model client/server lama. Kedua, biaya bandwidth tetap di bawah, membuat harganya terjangkau bagi perusahaan untuk menjamin tingkat konektivitas yang memungkinkan aplikasi online tampil secara elegan. Ketiga, banyak konsumen berhasrat melakukan migrasi karena mereka frustrasi dengan siklus tradisional pembelian lisensi software, pembayaran kontrak layanan, dan keharusan membayar upgrade (software maupun hardware).[5]

Software as a service menawarkan kepada pembeli TI beberapa keuntungan dibanding model lisensi tradisional. Daripada membeli lisensi per tempat set dan kontrak perawatan, konsumen enterprise tidak lama lagi akan menghadapi kenaikan biaya besar-besaran karena mereka dapat dengan mudah mendaftarkan diri untuk berlangganan. Menurut analisis McKinsey & Co, biaya kepemilikan biasanya lebih kecil, sekitar 30% lebih rendah untuk instalasi CRM biasa.

sumber: McKinsey Analysis annual reports

Berbicara penerapan konsep SaaS di Indonesia memang miris melihat kondisi layanan internet di Indonesia, selain masih terhitung mahal ditambah lagi dengan lambatnya koneksi menambah daftar masalah yang membuat konsep SaaS diterapkan secara maksimal. Tapi Akhir-akhir ini mulai berhembus angin segar (walaupun sedikit hehe) diawali dengan berita turunnya tarif seluler yang akan diikuti dengan turunnya tarif internet, bahkan telkom sudah mulai menggebrak dengan menaikkan kapasitas bandwidth yang dulu nya up to 384 kbps(downstream) menjadi 1 Mbps.

Problema dasar SAAS adalah sbb[2]:

  • Data availability: Data anda ada di situs ASP (Application Service Provider). Kalau ASP crash atau koneksi Internet hilang, tidak akses ke data. Argumentasi bahwa data seharusnya di backup di PC lokal sebenarnya suatu kontradiksi. Kalau data kita sudah ada di PC kita, buat apa kita upload lagi ke situs ASP.
  • Service availability: Kalau server2 milik ASP sedang kacau (crash), kita tidak bisa menggunakan software. Jadi buat apa menyewa software yang tidak bisa dipakai.
  • Security & Privacy: Kebanyakan ASP tidak memberikan jaminan kalau data anda hilang. Kalau data ini merupakan data korporat yang sensitif, bisa-bisa di curi oleh pihak lawan/kompetisi.

Beberapa pihak skeptis tetapi banyak juga yang mendukung implementasi SaaS. Memang untuk indonesia sendiri belum ada layanan SaaS yang bisa di ambil sebagai contoh (CMIIW) semisal Salesforce.com yang menyebutkan dirinya sebagai leader dalam implementasi SAAS. Saya pribadi juga masih penasaran dengan salesforce.com dengan beberapa isu-isu diatas mereka masih tetap exist sampai sekarang dan tidak menutup kemungkinan hingga beberapa tahun kedepan apalagi setelah perusahaan tsb mengeluarkan platform dan bahasa pengembangan sendiri, Apex Code. Ok guys masih berani implementasi SaaS ?

referensi:

1. http://en.wikipedia.org/wiki/Software_as_a_Service

2. http://hardjono.net/2007/08/28/software-as-a-service-saas-konsep-yang-masih-lemah/

3. http://www.mckinseyquarterly.com/Delivering_software_as_a_service_2006

4. http://www.gartner.com/it/page.jsp?id=593207

5. Software as a Service (SaaS), Sda-asia magazine

Written by Ramdhani

Juni 19, 2008 at 5:54 pm

Pesawat ku terbang tinggi ?

leave a comment »

Sekilas membaca berita ini jadi teringat tanggal 1 juni yang lalu ketika dalam perjalanan dalam jakarta – medan menggunakan maskapai GA bersama beberapa rekan kerja. Dalam cuaca yang cerah agak berawan dan sudah menempuh setengah perjalanan seluruh penumpang pesawat termasuk saya sendiri di kagetkan oleh suara speaker mbak-mbak pramugari karena harus mendarat darurat di Pekanbaru Riau, tetapi Alhamdulillah pendaratan yang dilakukan bukan karena kerusakan tetapi karena bandara polonia di tutup sementara. Penutupan tersebut di sebabkan oleh adanya pesawat batavia air yang mengalami pecah ban di tengah landasan sehingga tidak memungkinkan pesawat-pesawat lain untuk mendarat. Jadwal yang seharusnya jam 12 siang sudah sampai medan harus tertunda selama 6 jam dari jam 11.00 – 17.00 WIB.

terjebak di pekanbaru terjebak di pekanbaru2

gambar 1. mendarat di pekanbaru dan suasana bandara akibat tertunda nya beberapa penerbangan
Lagi-lagi terjadi kecelakaan pesawat, mengapa oh mengapa ? Dibawah ini saya lampirkan data tahun 2006 tingkat kecelakaan di dunia dari IATA.org yang paling banyak adalah CIS (negara bekas Uni Soviet).
Dari press release Making a Safe Industry Even Safer – tercantum bahwa hingga akhir tahun 2006 penerbangan udara adalah tetap menjadi moda transportasi dengan tingkat keselamatan tertinggi – dibanding moda transportasi lainnya. Dalam press release ini dicantumkan tingkat kecelakaan pesawat di dunia – yang angkanya 0.65 kecelakaan per sejuta penerbangan (didefinisikan sebagai hull loss per million departure). Dengan peningkatan volume penerbangan dunia yang bertumbuh 5-6% per tahun — IATA menargetkan penurunan tingkat kecelakaan hingga 0.49 kecelakaan per sejuta penerbangan pada tahun 2008. Indonesia masuk ke bagian asia pasifik.

Angka kecelakaan pesawat di dunia

gambar 2. Angka kecelakaan di dunia (iata.org)

sebagai seorang muslim saya diajari untuk bersikap tawakal – berserah diri kepada Allah swt, apalagi klo masalah urusan ajal walaupun kita bersembunyi di benteng yang kokoh sekalipun tidak akan lepas kita jika memang sudah waktunya tiba. Tetapi dalam tawakal itu sendiri kita juga di anjurkan untuk menyempurnakan ikhitiar kita. Ada sebuah hadits yang mungkin sering kita dengar :

Ada seorang laki-laki datang kepada Nabi saw yang hendak meninggalkan untanya. Ia kemudian berkata, “Aku akan membiarkan untaku, lalu akan bertawakal kepada Allah.” Akan tetapi, Nabi saw bersabda kepadanya, “Ikatlah untamu dan bertawakallah kepada Allah.”

Hadits tersebut, pertama, mengajarkan kepada orang tersebut agar mengikat untanya; kedua, memberikan pemahaman kepadanya bahwa tawakal tidak berarti meninggalkan sebab-akibat; dan ketiga, memerintahkan supaya dia mengaitkan sebab dengan akibat seraya bertawakal.

Kembali ke masalah kecelakaan pesawat dan terkait dengan kaidah kausalitas,  pemerintah dalam hal ini sebagai regulator harus menyempurnakan ikhtiar dengan kontrol yang lebih ketat, lebih tegas dalam masalah keselamatan awak pesawat dan berikanlah sanksi yang jelas baik bagi perusahaan penerbangan sebagai operator maupun kepada penumpang sebagai pengguna jasa yang jelas-jelas membahayakan keselamatan (operasional maupun teknis kondisi pesawat). . Usaha pemerintah mencabut mencabut izin adam air perlu di apresiasi supaya menjadi shock therapy bagi operator penerbangan terutama yang mengincar segmen low-cost carrier , tidak bisa seenaknya menjadi operator cuma mikir untuk “ngejar setoran” tanpa pertimbangan  keselamatan penumpang. Dan tentunya penumpang juga harus bertanggung jawab dan mengikuti aturan-aturan yang ada demi keselamatan bersama.

Oya terakhir ada pengumuman dari BPS bahwa jumlah pengguna angkutan udara sepanjang bulan Maret 2007 berjumlah 2,3 Juta orang atau naik 41% dari jumlah penumpang bulan Februari 2007. Jadi bisa diasumsikan bahwa orang Indonesia nggak kapok naik pesawat walaupun sering kecelakaan hehe.

referensi :

1. iata.org

2. Angka kecelakaan pesawat di duniahttp://hotradero.multiply.com

3. kaidah kausalitas Memahami Hubungan Sebab-Akibat Dalam Realitas Kehidupan Muslim, Abdul Karim as-Saamiy; Darul Bayariq, Beirut; 1996.

Written by Ramdhani

Juni 19, 2008 at 2:47 am

Ditulis dalam Open Mind, Opini, Travelling

Tagged with , ,