Ramdhani’s Blog

Catatan kecil pengalaman, pemikiran dan proses pembelajaran …

Sofware as a service (SaaS) dan penerapannya di Indonesia

with one comment

saas-workday

Lagi baca-baca mengenai tren IT tahun 2008 nih, analisis gartner memprediksikan trend menuju green IT, trend yang mengacu kepada opini home user, software as a service (SaaS) dan printer 3D, semuanya termasuk dalam Top Ten yang pesat berkembang dalam tahun ini dan tahun-tahun berikutnya.

software as a service (SaaS) , adalah suatu model penyampaian aplikasi perangkat lunak dimana aplikasi di simpan di sebuah hosting provider dan bisa diakses oleh pengguna melalui internet. Dengan menghapuskan kebutuhan untuk menginstall dan menjalankan aplikasi pada komputer pengguna, SaaS menghilangkan kerumitan dalam pemeliharaan software, operasional dan support.[1]

Analis Gartner, sebagaimana disebutkan dalam siaran pers-nya, juga melihat potensi pemangkasan biaya di sektor Software as a Service (SaaS) dan Service-Oriented Architectures (SOA). Mereka yakin bahwa pada tahun 2012, paling tidak sepertiga software aplikasi untuk perusahan akan dibeli dalam bentuk langganan layanan (service subscriptions) ketimbang sebagai produk berbasis lisensi. Dibandingkan model pembelian putus untuk lisensi, perusahan memilih model SaaS dengan pertimbangan biaya yang dikeluarkan setara dengan jumlah pemakaian.

Ada beberapa alasan mengapa tren ini sepertinya melambung di mana generasi software hosting sebelumnya gagal melakukan hal itu pada satu dekade sebelumnya. Alasan pertama, model rancangan dan distribusi software membuatnya lebih hidup dan tidak mahal untuk membagi satu aplikasi kepada ratusan perusahaan dengan memungkinkan lebih banyak contoh aplikasi agar berjalan dalam lingkungan biasa dan secara luas berimprovisasi pada model client/server lama. Kedua, biaya bandwidth tetap di bawah, membuat harganya terjangkau bagi perusahaan untuk menjamin tingkat konektivitas yang memungkinkan aplikasi online tampil secara elegan. Ketiga, banyak konsumen berhasrat melakukan migrasi karena mereka frustrasi dengan siklus tradisional pembelian lisensi software, pembayaran kontrak layanan, dan keharusan membayar upgrade (software maupun hardware).[5]

Software as a service menawarkan kepada pembeli TI beberapa keuntungan dibanding model lisensi tradisional. Daripada membeli lisensi per tempat set dan kontrak perawatan, konsumen enterprise tidak lama lagi akan menghadapi kenaikan biaya besar-besaran karena mereka dapat dengan mudah mendaftarkan diri untuk berlangganan. Menurut analisis McKinsey & Co, biaya kepemilikan biasanya lebih kecil, sekitar 30% lebih rendah untuk instalasi CRM biasa.

sumber: McKinsey Analysis annual reports

Berbicara penerapan konsep SaaS di Indonesia memang miris melihat kondisi layanan internet di Indonesia, selain masih terhitung mahal ditambah lagi dengan lambatnya koneksi menambah daftar masalah yang membuat konsep SaaS diterapkan secara maksimal. Tapi Akhir-akhir ini mulai berhembus angin segar (walaupun sedikit hehe) diawali dengan berita turunnya tarif seluler yang akan diikuti dengan turunnya tarif internet, bahkan telkom sudah mulai menggebrak dengan menaikkan kapasitas bandwidth yang dulu nya up to 384 kbps(downstream) menjadi 1 Mbps.

Problema dasar SAAS adalah sbb[2]:

  • Data availability: Data anda ada di situs ASP (Application Service Provider). Kalau ASP crash atau koneksi Internet hilang, tidak akses ke data. Argumentasi bahwa data seharusnya di backup di PC lokal sebenarnya suatu kontradiksi. Kalau data kita sudah ada di PC kita, buat apa kita upload lagi ke situs ASP.
  • Service availability: Kalau server2 milik ASP sedang kacau (crash), kita tidak bisa menggunakan software. Jadi buat apa menyewa software yang tidak bisa dipakai.
  • Security & Privacy: Kebanyakan ASP tidak memberikan jaminan kalau data anda hilang. Kalau data ini merupakan data korporat yang sensitif, bisa-bisa di curi oleh pihak lawan/kompetisi.

Beberapa pihak skeptis tetapi banyak juga yang mendukung implementasi SaaS. Memang untuk indonesia sendiri belum ada layanan SaaS yang bisa di ambil sebagai contoh (CMIIW) semisal Salesforce.com yang menyebutkan dirinya sebagai leader dalam implementasi SAAS. Saya pribadi juga masih penasaran dengan salesforce.com dengan beberapa isu-isu diatas mereka masih tetap exist sampai sekarang dan tidak menutup kemungkinan hingga beberapa tahun kedepan apalagi setelah perusahaan tsb mengeluarkan platform dan bahasa pengembangan sendiri, Apex Code. Ok guys masih berani implementasi SaaS ?

referensi:

1. http://en.wikipedia.org/wiki/Software_as_a_Service

2. http://hardjono.net/2007/08/28/software-as-a-service-saas-konsep-yang-masih-lemah/

3. http://www.mckinseyquarterly.com/Delivering_software_as_a_service_2006

4. http://www.gartner.com/it/page.jsp?id=593207

5. Software as a Service (SaaS), Sda-asia magazine

Written by Ramdhani

Juni 19, 2008 pada 5:54 pm

Satu Tanggapan

Subscribe to comments with RSS.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: