Ramdhani’s Blog

Catatan kecil pengalaman, pemikiran dan proses pembelajaran …

Jakarta, Malam minggu menjelang proklamasi

leave a comment »

“Bada isya kulangkahkan kaki keluar dari kos ku di daerah jakarta pusat, riuh suasana anak-anak kecil bermain-main di sisi jalan menyambut  perayaan 17 agustus yang besok akan dilangsungkan. Di kepala mereka mungkin sudah terbayang serunya lomba-lomba yang akan mereka ikuti , banyaknya hadiah yang akan mereka dapatkan, tapi ah mereka masih anak-anak biarlah mereka merasakan masa kecil mereka dengan bahagia entah apakah mereka tahu bahwa sebenarnya kata merdeka itu bagi banyak orang masih sebatas fatamorgana di kala harga-harga membumbung tinggi ….

Kunaiki bis kota patas AC yang yang tidak ber AC jurusan Senen – Blok M dan sepi penumpang karena memang  sudah agak malam,”ke blok m bang !”ucapku sambil memberikan ongkos bis yang seharga 1 mangkok bakso bang kumis yang biasa mangkal di dekat rumah ku. Jalanan ibukota juga tidak terlalu padat beda seperti suasana jalanan hari-hari kerja yang macetnya bikin orang mabuk kepayang (baca:pusing).

Di  taman tugu proklamasi yang terletak di jalan proklamasi kulihat beberapa orang menyiapkan perlengkapan untuk upacara besok paginya, dan di dalam taman sendiri seperti malam-malam minggu lainnya banyak muda-mudi sedang upacara(n) tanpa bendara…huh… Menyusuri  jalan Diponegoro menuju Blok M dikiri kanan jalan yang notabene banyak kantor pemerintahan dan markas partai politik menghiasi diri dengan atribut merah putih dari bendera, umbul-umbul bahkan tong sampah pun di cat merah putih untuk mempersiapkan upacara keesokan paginya. Bahkan ku lihat ada beberapa kantor yang sudah membuat acara di malam ini, ada yang sebatas rapat, ada juga juga markas partai politik baru yang merupakan pecahan dari partai besar berlambang banteng mengadakan acara dangdutan dengan biduanita berpenampilan seronok.

Setelah 3 kali naik angkot yang berbeda untuk sampai rumah ku di daerah selatan jakarta akhirnya sampai juga di depan gang masuk menuju rumah ku, jam sudah menunjukkan pukul 10.00 malam kulihat beberapa meter dari rumah ku ramai terdengar suara film layar lebar yang ternyata bersumber dari “film layar tancap” yang diadakan masih dalam rangka menyambut kemerdekaan juga. Sesampainya dirumah segera kurebahkan badanku di gundukan kapuk empuk karena badan ini sudah babak belur dihajar angin malam jakarta……” ( Malam minggu 16 Agustus 2008 )

Indonesia kini genap 63 tahun. Usia yang patut disyukuri karena mencapai rata-rata harapan hidup orang Indonesia. Namun, masalahnya apakah Indonesia saat ini sudah benar-benar merdeka. Pertanyaan itu layak dilontarkan sebab selama 63 tahun Indonesia merdeka cita-cita kemerdekaan berupa terwujudnya masyarakat yang adil, makmur, dan sejahtera masih jauh dari kenyataan.

Kita teriak-teriak, “kita harus bangkit, kita harus mandiri, kita harus bisa bersaing dengan bangsa lain”. Atau kita gembar-gembor “merdeka merdeka!” Tapi, di saat yang sama kita menghamba pada Amerika. Amien Rais mengatakan demikian itu sebagai mental inlander. Lewat bukunya Agenda Mendesak Bangsa Selamatkan Indonesia, ia secara gamblang menggambarkan kekayaan alam Indonesia yang mayoritas sudah dikuasai asing.

“Nasionalisme kita telah menjadi nasionalisme dangkal. Kita bela merah putih hanya dalam hal-hal yang bersifat simbolik, namun ketika kekayaan alam kita dikuras dan dijarah oleh korporasi asing, ketika sektor-sektor vital ekonomi seperti perbankan dan industri dikuasai asing, bahkan ketika kekuatan asing mendikte perundang-undangan serta keputusan-keputusan politik, kita diam membisu. Seolah kita sudah kehilangan harga dan martabat diri..”(Agenda Mendesak Bangsa Selamatkan Indonesia, Amien Rais)

Pengurasan kekayaan alam Indonesia dapat dilihat dengan intervensi terhadap produk hukum RI yang mengizinkan asing menguasai aset nasional nyaris tanpa batas. Simak, misalnya, pernyataan USAID (United States Agency for International Development) “USAID has been the primary bilateral donor working on energy sector reform“. Khusus mengenai penyusunan UU Migas, USAID secara terbuka menyatakan, “The ADB and USAID worked together on drafting a new oil and gas law in 2000” (http:www.usaid.gov/pubs/cbj2002/ane/id/497-009.html).

Di bidang pertahanan-keamanan, kita diatur asing lewat program-program seperti IMET (dengan Amerika), DCA (Singapura), Densus 88 (AS), NAMRU 2 (AS). Proyek NAMRU 2, disebut Koordinator MER-C Dr Jose Rizal sebagai pangkalan militer AS di jantung Indonesia.

Asing juga menguasai bisnis mutiara, pelayaran, jasa perawatan, dan industri petrokimia. Menteri Perindustrian Fahmi Idris mengatakan dari sekitar 20-an industri petrokimia di Indonesia hanya empat yang dimiliki oleh pengusaha lokal. “Dari 20-an perusahaan petrokimia, hanya empat yang dimiliki lokal. Selebihnya Filipina, Taiwan, dan Korea,” kata Menperin dalam seminar Indonesia Investor Forum 2 di Jakarta (Kapanlagi.com, 31 Mei 2007).

Sebagai bangsa yang berdaulat tentu kita tidak ingin terus menerus berada dalam cengkraman asing tersebut. Karena itu bagi bangsa yang terjajah seperti Indonesia ini hanya satu jalan yang layak diupayakan, yaitu membebaskan diri dari penjajahan itu sehingga diraihnya kemerdekaan hakiki.

Written by Ramdhani

Agustus 17, 2008 pada 4:34 pm

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: