Ramdhani’s Blog

Catatan kecil pengalaman, pemikiran dan proses pembelajaran …

Archive for the ‘karya sastra’ Category

Perjalanan …..

leave a comment »

Duhai, kalau pohon bisa berkelana

dan bergerak dengan kaki dan sayap!

Tentu ia tak akan menderita karena ayunan kapak

juga tak akan merasakan pedihnya gergaji!

Karena kalau mentari tidak berkelana jauh

menembus malam

Mana mungkin setiap pagi

dunia akan cerah ceria?

Bila air samudra

tidak naik ke langit,

Mana mungkin tumbuh-tumbuhan akan tersuburkan

oleh irigasi dan hujan yang lembut?

Tetes air yang meninggalkan negerinya,

samudra, dan lalu kembali —

Mendapati tiram sedang menanti

dan tumbuh menjadi mutiara.

Tidakkah Yusuf meninggalkan ayahnya,

dalam sedih dan air mata dan putus asa?

Tidakkah lewat perjalanan itu

dia peroleh kerajaan dan kemenangan ?

Kalau tak punya kaki untuk berkelana

berkelanalah ke dalam dirimu,

Dan bak tambang batu delima

terima jejak sinar mentari!

Perjalanan seperti itu

akan membawamu ke dirimu,

Mengubah debu jadi emas murni!

Tinggalkan pahit dan cuka,

pergilah ke manis!

Sebab air laut pun membuahkan

seribu jenis buah

Matahari itulah

yang menampilkan karya amat bagus itu,

Karena pohon jadi indah

kala disentuh mentari

(rumi)

Written by Ramdhani

Mei 30, 2008 at 3:31 pm

Siti Nurbaya in memorial

with 8 comments

siti nurbaya

Sekedar nostalgia dalam rangka 100 tahun kebangkitan nasional hehe. Jadi teringat masa kecil dulu saya dan keluarga sangat menyenangi film yang satu ini, kisah “Siti Nurbaya” yang pada waktu  itu dibintangi oleh novia kolopaking sebagai siti nurbaya dan gusti randa sebagai samsul bahri. Cerita ini diangkat dari roman karangan marah rusli yang diterbitkan oleh balai pustaka. Roman yang satu ini memang sangat fenomenal dan bisa dibilang belum ada tokoh fiktif yang menandingi sosok perempuan yang satu ini. Saat ini ada beberapa novel fenomenal lainnya seperti karya Andrea Hirata dalam  “Laskar Pelangi” yang memunculkan sosok Haikal maupun Habiburahman Al Shirazi dalam “Ayat-ayat Cinta” yang memunculkan sosok Fahri, Aisha, Maria dll, tapi saya rasa ke semuanya belum bisa menandingi ketokohan siti nurbaya.

Jika kita menengok ke belakang tokoh sentral dalam roman Siti Nurbaya karya marah rusli itu telah hadir sejak tahun 1922. Di padang, Siti Nurbaya  hadir seperti sosok riil. Ada jembatan atas namanya, ada pula makam lengkap dengan cungkup dan kelambunya. yang menarik beberapa lama setelah roman itu lahir terjadi perubahan dalam masyarakat minagkabau terutama berkaitan dengan kawin paksa. Roman ini kemudian menjadi counter culture, yang mengejek setiap orang tua ketika hendak memaksa anak perempuannya kawin dengan perjodohan paksa: ini bukan lagi zaman siti nurbaya. Bahkan 80 tahun kemudian Dewa 19 pernah membuat lagu berjudul “Cukup Siti Nurbaya” yang juga terinspirasi oleh roman Siti Nurbaya.

“Roman Siti Nurbaya berkisah tentang percintaan melodramatis Siti Nurbaya dengan Samsul Bahri. Namun orang tua Siti tak menyetujui. Siti pun menikah dengan Datuk Maringgih orang tua kaya berhati licik. SIti akhirnya meninggal diracun anak buah Datuk Maringgih . Syamsul pun mati. Siti Nurbaya menarik karena roman ini mampu membangun pemahaman baru kan kegelisahan perempuan terhadap adat dan kebudayaan yang mencengkram mereka. Cerita ini sekaligus menggambarkan pengorbanan perempuan Siti Nurbaya  untuk kedua orangtuanya dengan menikahi Datuk kaya demi melunasi orang tua.” (tempo)

Tetapi yang saya sayangkan adalah novel ini seringkali dijadikan bahan untuk menyerang konsep dalam islam yang memperbolehkan(bukan mewajibakan loh) poligami, padahal jika kita pikir dengan akal sehat sebelum datangnya islam seorang laki-laki apalagi yang memiliki kedudukan tinggi(bangsawan) biasanya memiliki banyak selir, bahkan raja-raja di tiongkok ada yang memiliki lebih dari seribu selir. Islam justru mengatur masalah-masalah tersebut. Loh kok jadi ngomongin poligami nih harap maklum soalnya abis minum jus poligami (gak nyambung kan). Cukup Sampai Disini deh…

Written by Ramdhani

Mei 21, 2008 at 1:44 pm

Sang Alkemis

with 6 comments

sang alchemist Salah satu novel menarik yang saya baca adalah sang alkemis yang di tulis oleh paulo coelho pengarang ternama dari brazil yang sekarang juga nyambi di PBB sebagai duta perdamaian untuk perdamaian dan toleransi (ga tau nih dia sepakat dengan invasi irak atau ga ?). Novel ini Novel garapan penulis Brazil ini berkisah tentang suka duka peziarahan bocah kecil bernama Santiago, bocah gembala di Andalusia. Demi “legenda pribadi” ia memutuskan melakukan perjalanan panjang. Dari Spanyol menuju Mesir. Semua demi mimpi-mimpinya bertemu dengan Sang Alkemis, dan harta karun. Pesan dari buku ini adalah untuk jangan pernah berhenti bermimpi, setiap orang punya cita-cita, sesuatu yang diimpikan yang patut untuk diwujudkan.

Untuk mendapatkan softcopy novel ini bisa di download disini sang alkemis

Written by Ramdhani

Maret 29, 2008 at 12:25 pm